Proses Pembangunan Kapal Secara Umum

Dalam membangun sebuah kapal dibutuhkan sebuah metode pembangunan kapal untuk meyelesaikan proses pembuatan kapal tersebut. Metode proses produksi kapal ini berkembang setiap saat. Perkembangan metode ini bertujuan untuk mempermudah dalam proses pengerjaan agar kapal dapat diselesaikan dengan waktu yang cepat. Sampai saat ini perkembangan metode pengerjaan kapal terdiri dari empat tahapan. Perkembangan ini berdasarkan teknologi yang digunakan dalam proses pengerjaan lambung dan outfitting.

Metode Konvensional

Metode ini memusatkan pekerjaan pada masing-masing sistem fungsional yang ada di kapal. Dengan kata lain metode ini memandang kapal sebagai sebuah sistem. Proses pengerjaan kapal dengan metode ini berjalan dengan sangat lamban. Karena perkejaan dilakukan satu persatu dan bertahap. Pertama lunas dipasang terlebih dulu, kemudian gading-gading dipasang dikulitnya. Bila badan kapal hampir selesai dirakit peerjaan outfitting dimulai. Pekerjaan outfitting-nya pun dipasang sistem demi sistem, seperti pemasangan ventilasi, sistem pipa, lisatrik, mesin, dll.

Metode ini merupakan metode paling awal sehingga tingkat produktivitasnya pun masih sangat rendah. Mutu pekerjaan dengan metode ini masih sangat sangat rendah juga karena hampir seluruh pekerjaan dilakukan secara manual pada building berth. Dengan proses pekerjaan secara manual tersebut, maka kegagalan pada proses pekerjaan sangat sering terjadi. Akibatnya, penambahan jam lembur (overtime) tidak dapat dihindari.

Metode Blok Konvensonal (Hull Block Construction Method dan Pre Outfitting)

Metode ini dimulai dengan digunakannya teknologi pengelasan pada pembuatan kapal. Dengan metode ini, material kapal dibuat menjadi sebuah seksi-seksi seperti seksi geladak, seksi kulit dan lain-lain. Dari seksi-seksi ini kemudian dilas membentuk sebuah blok. Dari blok ini kemudian dirakit menjadi badan kapal. Pada metoe pengerjaan ini, pemasangan outfitting dikerjakan pada blok maupun badan kapal. Pemasangan outfitting ini disebut sebagai proses pre- outfitting.

Metode ini masih dikatakan sebagai metode tradisional karena design, material definition dan

procurement masih dikerjakan sistem demi sistem. Walaupun proses produksinya dikerjakan

berdasarkan block. Karena adanya dua aspek yang bertentangan antara perencanaan dan pengerjaannya, maka pada perbaikan produktivitas masih sulit untuk dilakukan.

Metode Modern (Full Outfitting Block System)

Metode ini biasa disebut sebagai metode zone/area/stage. Perubahan teknologi dari konvensional menjadi modern dimulai pada tahap ini. Tahapan ini ditandai dengan lane construction process dan zone outfitting yang merupakan aplikasi group teknologi pada hull construction dan outfitting work. Group teknologi adalah metode analitis untuk secara sistematik menghasilkan produk dalam kelompok-kelompok yang mempunyai kesamaan dalam perencanaan maupun proses produksinya. Kebanyakan galangan-galangan di Eropa dan Jepang menggunakan metode ini.

Pada metode ini galangan mengelompokkan proses produksi berdasarkan kesamaan proses produksi, sehingga pekerja lebih mudah dan cepat dalam melakukan pekerjaan di bengkel kerja. Dengan metode ini maka peningkatan produktivitas galangan dapat lebih mudah ditingkatkan. Dan pada pekerjaan outfitting-nya dilakukan dengan metode zone outfitting. Jika pada metode sebelumnya pekerjaan outfitting dikerjakan berdasarkan fungsinya, maka pada tahap ini pekerjaan outfitting dikerjakan berdasarkan region/zone. Pengerjaan outfitting pada metode ini dibagi menjadi tiga proses, on-unit, on-block, dan on-board :

a) On-unit

Metode on-unit ini dapat didefinisikan sebagai pemasangan perlengkapan outfitting yang dilakukan secara tersendiri dari struktur lambung.

b) On-block

Metode ini mengerjakan pemasangan outfitting pada setiap structural sub-rakitan (semi- block atau block).

c) On-board

Pada metode ini perakitan dan pemasangan perlengkapan outfitting dilakukan selama penegakan (erection) lambung an setelah peluncuran.

Proses pembangunan kapal (shipbuilding process) adalah suatu proses yang sangat kompleks yang dimulai dari perumusan permintaan pemesan kapal (spesifikasi teknis kapal) hingga penyerahan kapal oleh pihak galangan kepada pemesan kapal. Oleh karena itu galangan harus mampu menterjemahkan apa yang diinginkan pemesan kapal [Satriya, 2002]. Tahapan- tahapan dalam proses pembangunan kapal baru dapat diuraikan secara umum sebagai berikut [Storch et al, 1995] :

 Tahap pertama dalam proses pembangunan kapal adalah development of owner’s requirements yang memiliki arti perumusan persyaratan produk (kapal) oleh pemesan kapal, seperti tipe kapal, daerah pelayaran yang akan dilalui, jenis muatan, jumlah muatan yang akan dibawa, kecepatan yang diinginkan dan sebagainya. Hasil akhir yang diperoleh dari tahap ini harus mencerminkan apa yang menjadi permintaan pemesan kapal dan bagaimana kapal tersebut diperuntukkan.

 Tahap kedua dalam proses pembangunan kapal adalah preliminary/concept design yang memiliki arti penentuan awal karakteristik kapal. Dalam hal ini, penyusunan preliminary/concept design dapat dikerjakan staf pemesan kapal, design agent yang dikontrak pemesan kapal, maupun oleh staf dari satu atau lebih galangan kapal. Tahap ini merupakan gambaran umum mengenai kapal yang akan dibangun. Hasil dari tahap ini adalah ukuran utama kapal, bentuk lambung, rencana umum, perancanaan permesinan, kapasitas ruang muat, perlengkapan kapal, dll.

 Tahap ketiga dalam proses pembangunan kapal adalah contract design yang memiliki arti pembangunan kontrak desain. Kontrak desain merupakan informasi lebih detail dari hasil pengembangan preliminary/concept design. Informasi yang terdapat dalam kontrak desain harus cukup untuk digunakan dalam estimasi biaya dan waktu yang diperlukan dalam proses pembangunan kapal. Sama dengan tahap preliminary/concept design, pekerjaan ini dapat dilakukan oleh staf pemesan kapal, design agent yang dikontrak pemesean kapal, maupun oleh tenaga kerja galangan kapal.

 Tahap keempat dalam proses pembangunan kapal adalah bidding/contracting yang memiliki arti penandatanganan kontrak sesuai dengan desain yang disetujui. Penandatangan kontrak tersebut juga dilakukan setelah estimasi biaya dan waktu didapat, karena mahalnya biaya sebuah bangunan kapal baru proses penandatanganan kontrak biasanya berlangsung sangat lama dan kompleks. Hal terpenting dalam penetuan galangan kapal yaitu: biaya, tanggal serah terima (pengiriman) kapal, dan kinerja galangan kapal tersebut.

 Tahap kelima dalam proses pembangunan kapal adalah detail design and planning yang memiliki arti pembuatan desain, perencanaan, dan penjadwalan yang lebih detail. Hal ini dikarenakan proses pembangunan kapal melibatkan banyak komponen dan bahan baku yang harus dibeli, dibuat menjadi bagian-bagian kapal dari bahan baku yang tersedia, dan komponen serta bagian-bagian kapal tersebut dirakit.

 Tahap keenam dalam proses pembangunan kapal adalah construction yang memiliki arti proses produksi kapal tersebut. Proses pelaksanaan produksi yang sebenarnya dilakukan berdasarkan informasi-informasi detail yang didapat dari tahap-tahap sebelumnya.