Test dan Trial pada kapal saat dibangun

Kali ini saya akan membahas mengenai test dan trial pada kapal. terdapat 3 test dan trial pada kapal, yaitu dock trial, builders trial dan sea trial. memang ada beberapa perbedaan pendapat mengenai istilah -istilah diatas .

Dock trialdilakukan ketika kapalhampir selesai dan yang diuji adalah sostem dan perlengkapan kapal.

Builders Trial yaitu percobaan yang dilakukan oleh pihak galangan kapalketika kapal itu akan di lakukan sea trial (officcial sea trial)

Sea Trial yaitu percobaan yang dilakukan untuk memastikan kapal yang dbangun sesuai dengan spesifikasi teknis yang dipesan oleh pihak owner . sea trial dilakukan termausk menguji kapal dan sistem yang berjalan.

sebenernya ada beberapa istilah lain untuk sea trial ini diantaranya adalah : acceptance trials, underway trials, final contract trials.

adapun aktivitas aktivitas yang dilakukan ketika trials adalah sebagai berikut:

1.Starting Test

Yaitu pengujian performa kapal, yang dilakukan oleh owner kapal, pihak galangan, dan juga badan kapal, Pengujiannya meliputi : kecepatan, manuver, penurunan dan penarikan jangkar, pemadam kebakaran, dan yang menyangkut keseluruhan fungsi peralatan dan perlengkapan di kapal pada saat nanti kapal berlayar.

Starting test harus dilakukan sesuai dengan aturan klasifikasi

  • Untuk reversible engine, starting system harus mampu melakukan 12 kali start
  • Untuk non reversible engine harus mampu melakukan 6 kali start

untuk starting test elektrik harus disesuaikan dengan panduan dari maker

Item yang diperiksa dalam starting test ini adalah jumlah total kemampuan starting dan konfirmasi fungsional dari sistem starter

2.Stop Inertia Test

Tujuan dari stop inertia test ini adalah untuk mengukur waktu dan jarak , yang diukur di mesin pada saat mesin posisi ful throtle dan dihentikan sampai kapal mencapai kecepatan 2 knot.

adapun langkahn dan prosedurnya adalah menjalankan mesin induk (ME) hingga fullthrottle(100% engine loadatau 100% Rpm), kemudian mesin utama dimatikan dan dibiarkan hingga kecepatan kapal mencapai 2 knot. Item yang diukur dalam pengujian ini adalah kecepatan kapal sebelum mesin dimatikan (kondisi full throttle), waktu dan jarak tempuh yang dibutuhkan hingga mencapai 2 knot.

adapun yang diukur adalah sebagai berikut:

  1.  Kecepatan kapal sebelum mesin utama dihentikan (pada full throttle atau pada beban 100% atau pada rpm 100%).
  2. Waktu yang dibutuhkan sampai kecepatan kapal mencapai 2 knot setelah mesin utama dihentikan.
  3. Jarak tempuh dari kecepatan penuh hingga kecepatan 2 knot (pada kondisi mesin utama berhenti).
  4. Kecepatan angin, arah angin, dan kondisi laut.

3.Progressive speed trials

Tujuan dari percobaan ini adalah:Pengujian yang dilakukan dengan beban mesin semakin meningkat untuk menyelesaikan hubungan antara kecepatan kapal dan beban mesin.

prosedur dari percobaan ini adalah mengikuti tabel berikut:

Engine LoadEngine PowerEngine RpmRun between Mile posts
25 %As calculationAs on panelOne-double-run
50 %As calculationAs on panelOne-double-run
75%As calculationAs on panelOne-double-run
100%As calculationAs on panelOne-double-run

Item yang diperiksa:

  • Kecepatan kapal
  • Parameter mesin utama; Rpm, posisi throttle, dan barang penting lainnya
  • Cuaca, kondisi negara laut, kecepatan relatif, arah angin, dan kedalaman laut.

4.Crash Stop astern and Crash stop ahead test.

test dan trial pada kapal selanjutnya berfungsi Untuk membuktikan bahwa Main Engine cocok untuk pemberhentian darurat kapal, dan untuk mengukur waktu dan jarak antara titik pemberhentian astern / depan di bawah headway sampai Rpm menjadi stabil. stop Astern Test Procedure adalah sebagai berikut:

NOCOMMANDSPEED CONTROL HANDLERPM METER
1Start ahead100%  loadTo steadily reach at rpm MCR (ahead)
2Order for the Stop Astern TestFor Conventional Shafting: Stop the ME, change to the reversed Rpm, start the engine, increase rpm progressively to the MCR.

For SRP: Move the SRP handle from 0o gradually up to reaching 180 o

To reach reversed rpm steadily at MCR astern (referring to the Engine Maker)
3Stop TestFor Conventional Shafting: Stop the ME, change the rpm to the initial Rpm,

For Steerable Rudder Propeller (SRP): Move the SRP handle from 0o gradually up to reaching 180 o

 test dan trial pada kapal

item yang diukur pada Stop Astern Test

  1. Kecepatan kapal masing-masing 10 detik dengan Speed ​​Log di wheel house.
  2. heading angle kapal masing-masing selang 10 detik dengan kompas Gyro.
  3. ME rpm setiap interval 10 detik Sejalan. Arah dan kecepatan angin, keadaan cuaca, dan kedalaman laut pada awal pengujian.
  4. Waktu yang berjalan dari sinyal “full-astern” sampai berhenti total, yaitu dari mesin utama yang akan dihentikan → mesin mulai berputar astern → sampai ke kapal benar-benar berhenti.

sedangkan item yang diukur pada stop ahead test

  • Kecepatan kapal masing-masing 10 detik dengan Speed ​​Log di wheel house.
  • heading angle kapal masing-masing selang 10 detik dengan kompas Gyro.
  • ME rpm setiap interval 10 detik Sejalan. Arah dan kecepatan angin, keadaan cuaca, dan kedalaman laut pada awal pengujian.
  • Waktu yang berjalan dari sinyal “full-ahead” sampai berhenti total, yaitu dari mesin utama yang akan dihentikan → mesin mulai berputar ahead→ sampai ke kapal benar-benar berhenti.

5.Turning test

test dan trial pada kapal selanjtnya adalah Turning circle test adalah uji coba untuk mengetahui kemampuan dan stabilitas kapal dalam bermanuver membentuk lingkaran. Dalam uji coba pelayaran yang penulis ikuti, kapal berputar 360 derajat membentuk lingkaran untuk kemudian diukur diameter lingkaran dan waktu berputarnya. Dan selama percobaan berlangsung, adalah hal yang perlu untuk melakukan putaran penuh setidaknya 720 derajat untuk putaran starboard dan portside. Beberapa hal yang harus dicatat dan didapat untuk memastikan keselamatan kapal antara lain adalah:

  • Hilangnya kecepatan saat melakukan putaran
  • Waktu yang dibutuhkan untuk berubah arah ke sudut 90 derajat
  • Waktu yang dibutuhkan untuk berubah arah ke sudut 180 derajat

Jika memungkinkan, rencanakan trayek untuk percobaan ini.

turning cycle

6.Zigzag Maneuvering test

test dan trial pada kapal selanjutnya adalah Z-maneuvering test dilakukan untuk menguji kestabilan kapal dan respon kapal terhadap perubahan sudut rudder. Direkomendasikan untuk dilakukan dalam sudut rudder yang spesifik (10 derajat untuk 10/10 zig-zag test, dan 20 derajat untuk 20/20 zig-zag test). Ketika perubahan pergerakan kapal sudah mencapai sudut tertentu (10 atau 20 derajat), kemudian rudder langsung diputar ke arah sebaliknya dengan sudut yang sama. Item-item yang dicatat dari zig-zag test ini antara lain adalah waktu yang dibutuhkan untuk siklus penuh, waktu yang dibutuhkan untuk berubah arah ke sudut tertentu, dan sudut rudder ketika sudah berlawanan arah.

zigzag test ship

7.Steering Gear test

test dan trial pada kapal yang selanjutnya adalah test kemudi terdiri dari dua jenis pengujian, yaitu main steering gear test dan auxiliary steering test. Prosedur pengujian pada steering gear meliputi:

  1. Simulasi tes untuk pengukuran redundancy dilakukan untuk memverifikasi,apabila ada kegagalan tunggal, penggerak utama dan sistem steering gear tetap dioperasikan. Back-up propulsion dan steering gear sistem kecepatan harus di bawah service.
  2. Untuk pengujian emergency steering gear, penggerak utama dan sistem steering gear harus mampu dioperasikan sistem lokal di ruang panel steering gear.

Item pengujiannya sendiri dibagi menjadi dua, yaitu fungsi pengujian pada masing-masing back-up system pada sistem steering gear pada local controldi ruang steering gear, serta arah angin dan kecepatan, sea state, dan kedalaman laut di awal dan di akhir pengujian. Untuk menguji main steering gear test dilaksanakan serangkaian test dengan joystick, sedangkan untuk auxiliary steering test sendiri adalah menonaktifin sistem kemudi otomatis dan memfungsikan mode manual.  Untuk Main steering Joystick diposisikan 0” – 35” Port lalu  diposisikan 35” Port – 30” STBD, kemudian 35” STBD – 30” Port, dan terakhir 35” Port – 0”. Sedangkan untuk auxiliary steering (Manual) roda kemudi diputar 0” – 15” Port,  15” Port – 15” STBD, dan terakhir 15” STBD – 0”. Waktu maksimal tempuh main steering test untuk kondisi 35” Port – 30” STBD atau 35” STBD – 30” Port adalah 28 detik sedangkan untuk auxiliary steering test pada kondisi 15” Port – 15” STBD adalah 60 detik.

8.Anchoring test

Anchor test dilakukan pada kondisi kapal even keel dan sejajar arah angin, kedalaman air harus cukup untuk 3 shackle rantai jangkar. Dalam uji coba anchor test, windlass kapal akan diuji waktu penggulungan jangkar dari laut. Prosedurnya adalah sebagai berikut:

  • Drop atau menurunkan jangkar kanan dengan melepaskan rem mesin windlass,sekitar 82,5 m (3 fathoms) dari kanan jangkar rantai harus jatuh ke air. Sementara pada saat menjatuhkan jangkar, rem drum jangkar harus diuji.
  • Pengangkatan jangkar 55 m (2 fathoms) dari kanan rantai jangkar dengan cara menarik dengan mesin windlass.
  • Drop atau menurunkan jangkar kiri dengan melepaskan rem mesin windlass, sekitar55 m (2 fathoms) dari kiri jangkar rantai harus jatuh ke air. Sementara pada saat menjatuhkan jangkar, rem drum jangkar harus diuji.
  • Hoist 27,5 m (1 fathoms) rantai jangkar kiri kapal ditarik dengan menggunakan mesin windlass.
  • Hoist 27,5 m (1 fathoms) kedua rantai jangkar ditarik bersamaan dengan jangkar lainnya.

Waktu maksimal penggulungan untuk 1 shackle rantai (27.5 meter) adalah 3 menit atau kecepatan gulungnya adalah 0.15 meter/detik.

9.Black Out

Pengujian ini dilakukan untuk memastikan safetykapal dimana jika terjadi kehilangan daya listrik  maka akan dilakukan automatic starting pada generator dan sambungan otomatis daya ke main switch board. Hal yang diukur disini adalah waktu yang dibutuhkan untuk menyalakan dan menyambungakn main switchboard ke standby generator setelah black-out, dan pengujian fungsional dari peralatan elektronik yang harus tetap berfungsi dalam kondisi black-out

10.Endurance Test

Dengan menguji daya tahan mesin, surveyor mengukur tekanan oli, suhu air, suhu gas buang, dan tekanan oli pada gear box dengan kondisi 100% RPM maksimal mesin induk selama 240 menit. Waktu pengujian untuk kondisi normal bertahap 25% RPM maksimal, 50% RPM maksimal, 75% RPM maksimal, dan 90% RPM maksimal masing-masing 30 menit dan untuk kondisi 110% RPM maksimal adalah 30 menit dengan persetujuan maker

Dengan menguji daya tahan mesin, surveyor mengukur tekanan oli, suhu air, suhu gas buang, dan tekanan oli pada gear box dengan kondisi 100% RPM maksimal mesin induk selama 240 menit. Waktu pengujian untuk kondisi normal bertahap 25% RPM maksimal, 50% RPM maksimal, 75% RPM maksimal, dan 90% RPM maksimal masing-masing 30 menit dan untuk kondisi 110% RPM maksimal adalah 30 menit dengan persetujuan maker.

11.Noise and Local Vibration

Selama sea trial, pengukuran noise level harus dilakukan di semua ruangan kabin di dek akomodasi, wheelhouse dan machinery space. Noise level kemudian dicatat dan diberikan kepada shipowner dan pihak-pihak terkait. Kondisi saat melakukan noise test adalah sebagai berikut:

  1. Permesinan utama dijalankan pada normal continuous rating
  2. Semua auxiliary machineries, instrumen navigasi dan lain-lain dijalankan sesuai kondisi kapal saat beroperasi
  3. Perlengkapan ventilasi dan air conditioner dalam keeadaan beroperasi
  4. Semua pintu dan jendela dalam keadaan tertutup
  5. Ruangan delah dilengkapi dengan perabot/perlengkapan yang dibutuhkan
  6. Kedalaman air dan kondisi cuaca harus dicatat

Lokasi dilakukannya noise test umumnya adalah di engine room, pump room, ruang navigasi, ruang akomodasi, service spaces (galley, pantry, laundry).

sedang untuk local vibration adalah  Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui vibration level dan karakteristik dinamis kapal. Lokasi yang diuji adalah machinery spaces, navigation spaces, accommodation spaces dan service spaces.

12.Fire Fighting Equipment test (additional)

Pengujian ini dilakukan untuk memastikan bahwa firefighting equipment benar-benar siap dan dapat beroperasi dengan baik. Peralatan firefighting yang diuji antara lain:

  1. Fire main hydrants di geladak dan dek akomodasi
  2. Semua portable fire extinguishers
  3. Fire alarm dan fire detector di semua ruangann
  4. Emergency fire pump

13.Life Saving Appliances Test (additional)

Pengujian ini dilakukan untuk memastikan bahwa perlengkapan lifesaving dapat berfungsi dengan baik. Perlengakapan yang diuji antara lain:

  1. Life boats
  2. Life rafts
  3. Life buoys
  4. EPIRB and SART equipment