Keluhan Migas

Kemarin saya menghadiri undangan silaturrahmi yang diadakan oleh pihak Petronas dan SKK migas dan mengundang para stake holder termasuk ITS selaku pelaksana dari kegiatan SCR yang dilaksanakan di daerah Ketapang dan Gresik.  Dari beberapa paparan yang disampaikan terdapat beberapa hal yang menarik untukditulis yaitu beberapa fakta sebagai berikut:

  1. per tanggal 14 Desember 2015 harga minyak mentah mengalami penurunan sampai pada harga $35,27 per barel, sehingga membuat para produsen minyak mengalami kelesuan dalam melakukan produksi. ini merupakan harga terendah semenjak 2009.
  2. akibatnya beberapa perusahaan melakukan langkah langkah preventif guna menghindari kerugian termasuk beberapa proyek-proyek di tunda.

Dalam kondisi diatas ternyata diperparah dengan nilai tukar dolar terhadap rupiah menguat, Mengutip Bloomberg, Selasa (15/12/2015), rupiah berada di level 14.036 per dolar AS pada pukul 11.05 WIB. Level tersebut menguat jika dibanding dengan pembukaan yang ada di angka 14.060 per dolar AS dan juga jika dibandingkan dengan penutupan perdagangan sehari sebelumnya yang ada di level 14.122 per dolar AS. pelemahan rupiah karena dua sentimen. pertama masih karena rencana kenaikan suku bunga The Fed. Pelemahan harga komoditas juga membuat rupiah tertekan, Kenaikan bunga The Fed meningkatkan kekhawatiran akan adanya pelarian dana-dana asing yang berdampak kepada penguatan dolar AS dan menekan rupiah. Sedangkan penurunan harga komoditas terutama minyak bumi akan berdampak kepada kinerja pertumbuhan ekonomi karena memang saat ini ekspor terbesar Indonesia masih di sektor migas.

harga minyak
harga WTI oil

Dengan melihat beberapa fakta diatas, sektor migas di Indonesia harus segera berbenah, potensi migas di Indonesia tidak lah sebesar di bandingkan negara lain.  salah satu caranya adalah mempermudah investor untuk masuk di sektor migas. Kegiatan investasi di sektor migas, baik hulu maupun hilir,  perlu dorongan dari Pemerintah yaitu dengan cara  mengeluarkan sejumlah insentif di bidang perpajakan untuk mendorong kegiatan investasi di sektor hilir migas, termasuk bagi pembangunan kilang baru. Namun, sektor hulu migas juga perlu memperoleh dorongan yang sama. Kegiatan hulu migas saat ini sedang lesu, baik dari sisi produksi apalagi kegiatan eksplorasi. Kegiatan eksplorasi membutuhkan investasi besar. Tanpa ada insentif khusus, terutama di saat harga minyak masih sangat rendah, kegiatan eksplorasi menjadi tidak menarik.

Sumber :

http://bisnis.liputan6.com/read/2390203/2-sentimen-ini-bikin-rupiah-bertahan-di-14000-per-dolar-as

http://www.republika.co.id/berita/koran/halaman-1/15/12/14/nzc0k72-migas-minerba-dan-outlook-2016